dititik itu

Maaf jika aku tak pernah heboh lagi mengeluarkan ide-ideku lagi atau berbagai inisiatif lagi dengan wadah itu

Bukan berarti aku tak peduli lagi,

Bukan karena aku terlalu tenggelam dan sibuk dengan “dunia baruku”

Tapi lebih dari itu, karena kalian tak pernah memeperdulikan lagi kata-kataku

 

Aku bukan golongan langit yang setara dengan kalian untuk ikut campur mengurusi urusan-urusan langit yang membumi

Aku juga bukan orang bumi yang cukup berperan strategis seperti kalian, yang dibina dengan “pilihan” yang jujur kadang membuatku iri

 

Aku cukup tahu detail rute kerja itu, tapi tidak ada manfaat lebih ketika kusimpan sendiri

Saat ku coba bagikan, kalian seolah tak peduli.

Mungkin yang bicara bukan golongan kalian.

Iya, tatapan itu aku terima.

Dan semakin membuatku kuat, bahwa aku harus menjauh saja dari kalian.

 

Aku bisa mencari diriku ditempat lain yang memang membutuhkanku

Saat ilmu lebih, bisa kusalurkan pada yang memang menghargai sekecil apa pun pemahaman dan tanpa peduli langit bumi

 

Ini bukan ungkapan rasa kecewa melainkan sebentuk gumpalan rasa yang pernah kusampaikan tapi tak bertanggapan.

Aku rindu kata “syuro” yang bisa menguatkan ikatanku. Tapi, mengingat semua itu semua kubuang jauh.

Karena yang bisa mengikatku pada jalan ini hanya ikatan dalam hatiku sendiri, sedalam pemahamanku tentang hakikat Tuhanku menciptakanku. Dan itu sangat kuat sekali.

 

Aku, pada sebuah rasa dititik itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s