3 pertanyaan

“Bu, cemburu itu apa?”

Hmm…. aku sedikit tertegun mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut mungilnya,ah itu murni kosa kata baru baginya. Itu tanda ingin tahu pikirku.

Mungkin aku juga yang salah memilih kata, saat menjelaskan pada mereka kenapa aku tak harus selalu dibawa ke kelas mereka lagi. Menarik-narikku, bergelendot dan berebut tuk sekedar bergandeng tangan saat berjalan bersama atau menemani mereka bermain.

“Nak… nanti ga usah tarik-tarik Ibu lagi ya ke kelas, kita biasa aja. Ga enak sama wali kelasnya, nanti cemburu liat kita”.

Wajar saja kemudian pertanyaan itu muncul. “aaa…. Ga mau. Emang Bu, cemburu itu apa?”

“Cemburu itu, hemm……

seperti kemarin waktu Zhira cemberut dan  ga suka liat Ibu deket dan maen sama adik-adik kelas 1, iya kan Zhira cemburu? Pengennya Zhira aja yang main sama Ibu ”.

“Oh gitu. Hehe iya. Ok, kita mainnya di perpus aja ya Bu?”

Sambil mengacungkan jempol, Siiip.

Ha… plong, lepas juga akhirnya pelukan mereka di depan wali kelasnya.

Ibu tahu nak kalian sayang Ibu, merindukan Ibu berada di kelas bukan berdiam diri di perpus. Sama. Itu pun yang Ibu rasa. Sampai anak-anak kelas 1 punya julukan tersendiri karena kehebohan Ibu saat mengajar hadist. Ah rindu kala itu.

Setiap keping hidup, ada skenarionya sendiri dari sang Sutradara hidup. Manusia hanya menjalankan, dan melakukan yang terbaik dari yang ia bisa lakukan. Entah suka atau pun tidak.

Karena boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu Dan boleh jadi  kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu. (Q.S. 2:216)

Bagai telur yang baru menentas, proses ini diibaratkan anak ayam yang masih belajar hidup. Mencicipi semua jalan dan tempat baru tuk berpetualang. Mencari makna penghidupan, di dunia yang benar-benar nyata.

Siang hari disela makan siang

Seorang Ibu, partnerku ditempat baru.

“Bu Ismi asli orang mana?” beliau membuka percakapan disela makan.

“Hmm…… orang tua asli Lahat Bu,dua-duanya. Tapi sudah lama tinggal di Palembang.”

“oh…. Sudah niat nikah belum?”

Deg. Wah frontal sekali pertanyaannya.

Ok, aku menjawab dengan ekspresi sedatar mungkin. Lagi-lagi yang keluar kalimat itu.

“belum Bu, masih kecil. He… “ *plak (kapan ngaku gede?)

“Kapan targetnya? Kriterianya kayakmana?

Wah-wah makin menjadi pertanyaannya. Saya jadi mulai curiga apa maksud pertanyaan beliau. Bukan apa-apa. karena memang beberapa hari semenjak ditempat baru, hal-hal tak biasa mulai nampak jelas. Mulai dari pengunjung yang tak biasa, dan ruangan yang bersebelahan dengan kantor ikhwan. Beliau sudah biasa keluar masuk ruangan itu, tapi bagiku itu bagai ruangan yang seharusnyaberada jauh. Iya, tidak disitu. Ya… kondisi yang tidak membuat nyaman tuk berlama-lama ditempat baru. Aku malah jadi sering banyak kabur ke kelas teman-teman lain, dengan alasan sholat ataupun cari koneksi wifi. (*bukan bermaksud melalaikan tugas ya Allah, ampuni Baim)

Daripada pertanyaan Ibu tadi menjadi-jadi, aku jawab saja. “Mungkin tempatnya bukan di sini ataupun di sekolah Bu, karena tidak mau yang seprofesi.” Ha…jawabku asal, sambil tersenyum lepas. Berharap tak ada lagi pertanyaan. Tapi salah,

“Kenapa?” Tanya Ibu itu lagi. *tuing. Makin dicecar ternyata.

……………………………..

Kriteria siap bagi masing-masing orang pastilah berbeda-beda. Masalah jodoh, rahasia Allah. Semua sudah tertulis dalam kitab yang nyata Lauhul Mahfudz. Jodoh tak dapat dimajukan, juga dimundurkan. Jika berjodoh, semua akan tepat. Tepat orangnya, tepat waktunya. Seperti skenarionya. Berharap berakhir indah, dengan senantiasa menjaga dan memperbaiki. Menjaga hati, fokus Allah. Memperbaiki diri, fokus tuk Ilahi.  

Siang menjelang sore, saat mengajar privat

Hari selasa, jadwal mengajar privat tuk Ikram, siswa VI SD. “Dia sebentar lagi UN, kami khawatir dengan nilai UN nya”. Begitu pesan Papanya saat memintaku mengajarnya privat.

Disela mengerjakan soal, dari beberapa hari yang lalu dia selalu bertanya: “Bu, aku ganteng dak?” Karena seriusnya, aku sering tak memperdulikan pertanyaan itu. “Sudah kerjakanlah soalnya.”

Kemudia pertanyaan itu datang lagi, “Bu, jawab dulu… aku ni ganteng dak sih? dak mau ngerjoin kalu dak dijawab.” Ha… ada aksi boikot nih.

“kenapa emang?” jawabku singkat. “dak papo Bu, cepetlah Bu jawab”.

“oh… Ikram sudah besar ya. Akhwat mana Kram yang mengusik hatimu? Kenalinlah sama Ibu.” Selorohku agar tak mengecewakannya. Ada misi tersendiri.  “Ah Ibu, mau tahu aja”.

 Kemudian meluncurlah, kata-kata yang bisa kubagi untuknya. Dan hari itu, suasana les jd berwarna dengan hadirnya cerita dan diskusi kehidupan.

Pertanyaan ini cukup menarik jika saja aku cukup serius menanggapinya. Selain bertugas mentransfer ilmu, kewajiban guru privat juga seharusnya sama seperti “guru-guru” lain yang disebut guru. Ada tugas membimbing juga mendidik yang tak kalah penting untuk ditinggalkan. Bagi anak yang kurang perhatian karena ditinggal orang tua yang sibuk bekerja, atau kakak-kakaknya yang sibuk dengan urusan masing-masing. Sudah didengarkan seperti itu saja sudah sangat berarti apalagi mendapat penjelasan juga perhatian yang memang dibutuhkan. hmm…… andai saja, para orang tua sadar bahwa sesungguhnya yang dibutuhkan anak dari orang tuanya adalah kasih sayang dan perhatian bukan sekedar harta semata. mungkin tak kan ada lagi anak yang merasa tersisih karena pekerjaan dan tak dipedulikan. PR tuk para calon orang tua nih.

 

Shubuh yang damai, dengan rintik hujannya.

Kisah 04 Desember 2012

2 thoughts on “3 pertanyaan

  1. saya sangat exicited dgn pertanyaan pertama. menantang sekali😛
    tak harus di kelas, Ibu selalu ada dihatimu nak…
    *hua, Ibu gombal :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s