Sebentuk cinta

Allah menganugrahkan sebuah “rasa” pada jiwa manusia.

Senang, suka, kagum, sedih, sayang, marah, gundah, bingung, lelah, terpaksa, atau cinta, juga rasa-rasa lainnya yang mengusik hati.

Awalnya, rasa itu tumbuh karena dampak suatu kerja atau mengalir begitu saja tanpa tahu sebabnya. Mengalir, seperti air atau bahkan terbang dibawa tiupan angin.

Ada banyak kisah tentang semua rasa,

Rasa lelah ketika sebuah kerja terasa berat,

Atau rasa kesal saat melakukan sesuatu  yang tak disukai,

Kita tak pernah tahu bagaimana skenario Allah dalam hidup kita di masa mendatang

Dulu, pikiranku saat skripsi hanya ingin secepatnya sidang, lulus dan diwisuda.

Kemudian secepatnya merasakan aktivitas baru pasca kampus.

Jodoh itu bernama SDIT, sama sekali tak terbayang akan mengajar anak-anak SD karena background pendidikan sendiri di taraf Sekolah Menengah.

Rasa apa yang tercipta?

Bagi seorang yang tak pernah merasa bagaimana punya adik, atau anak, semua orang mungkin bisa menginterpretasikan sendiri bagaimana hebohnya mengatur anak-anak itu.

Keluhan, rengekan, pertanyaan, tangisan, sampah yang berserakan, tingkah jahil, bahkan perkelahian adalah makanan sehari-hari yang harus dihadapi.

Ribet??? Iya,

Dan saya sangat bangga pada Para Ibu yang dengan sabar mendidik anak-anaknya.

Dan nilai positifnya, saya sedang praktek langsung untuk itu.

Lambat laun, semua berproses. Dan prose situ melahirkan sebentuk rasa, yaitu sebentuk cinta.

Mereka tidak hanya membuat ribet, tapi selalu menebar keceriaan tanpa batas, kepolosan, kejujuran, juga rasa sayaang yang tulus.

Bahkan sambutan keceriaan di pagi hari, kata: “Ibu……………………………” dengan senyum manis mereka dari kejauhan   adalah suatu obat dan kebahagiaan tersendiri yang akan selalu dirindukan setiap hari.

Sifat manja mereka, yang selalu bercerita segalanya, pelukan sayangnya, atau bahkan tingkah mereka yang berebut mau digendong dan dipangku saat bercerita.  Ah nak… betapa manisnya kalian meski terkadang jahil.

Setiap hal tak serta merta jadi dalam satu kedipan mata, semua berproses sehingga prose situ menjadi saksi bahwa tugas manusia adalah bekerja melakukan yang terbaik dan tak berhenti belajar untuk selalu menjadi lebih baik karena Allah.

Sebentuk cinta, untuk kalian…

Anak-anakku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s