Ada masanya berpisah

Bertemu dan berpisah adalah 2 pasangan kata yang tak luput dari hidup makhluk Allah di dunia. Bertemu, kemudian berpisah karena takdir yang telah digariskan di Lauhul Mahfudz.

Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Iya, mati adalah sebuah kepastian yang akan dialami.
Seumur hidup, aku belum pernah menyaksikan sakaratul maut di hadapanku.
Subuh itu, tepat hari Raya Idul Adha 1433 H. jum’at, 26 Oktober 2012 ini yang pertama.

Meski yang kulihat bukan nyawa seorang manusia yang akan dicabut, tetap saja ada rasa takut dan kasihan.
Kucingku, teman yang selalu ada dari masa kecilku. Iya, keluarga kami sudah memelihara hewan sejak aku kecil.
Ayam, burung, ikan, kucing, bahkan kelinci pernah hadir dalam keluarga kami. Mamak dan Bapak mengajarkan arti tanggung jawab dan menyayangi makhluk lain dengan memelihara hewan.

Piping, nama kucingku yang ke 4. Kucing pertama namanya “Kimba” sudah ada sejak aku umur 5 tahun. Kalian tahukan Kimba? Nama singa putih yang ada di kartun2 waktu kita kecil dulu? Iya, dia mirip sekali dengan singa di kartun itu, putih bersih. Kimba tiba2 ditemukan tak bernyawa di bawah dipan saat ditinggal mudik ke Lahat waktu itu. Kasian, mungkin dia kelaparan karena kami tinggal mudik.

Kemudian kami memelihara kucing lagi, karena warnanya hampir sama dengan kimba jadi namanya juga Kimba. Kimba 2 hilang entah kemana. Kemudian kucing ke 3, “Ayek” kakak yang memeberinya nama. Warnanya putih kuning, berbeda dengan 2 kucing sebelumnya, Ayek adalah kucing betina. Mamak tidak pernah mengizinkan memelihara kucing betina karena nanti banyak anak dan takut darahnya tercecer dan mengotori rumah. Tapi untunglah Ayek tak punya anak. Ayek mati, karena dikeroyok anjing2 sawah dan tidak bisa manjat pohon karena kukunya baru saja kupotong. Kasihan dan tragis. Ya, mungkin memang sudah ajalnya. Dan aku hanya bisa melihat kuburannya saat itu.

Sayang, itulah kata yang kupunya untuk semua kucing2ku. Merawatnya sejak kecil, menjadi teman bermain dan penghibur hati di rumah.
Piping, nama asal yang kusebut untuk kelucuan kucing ke-4. Sore hari saat hujan lebat, kakak menemukannya dipinggir jalan, sendirian dan kehujanan. Jadilah sang kucing malang dibawa ke rumah. Kira-kira umurnya masih 3 bulan saat itu.

Seminggu sekali piping dimandikan. Karena takut kejadian seperti Ayek, kuku piping tak pernah dipotong. Tapi… imbasnya, tanganku sudah jadi langganan cakarannya. Bahkan gigitannya hamper saja buat tanganku dijahit. Ya, sayang tetaplah sayang. Meski begitu aku tetap sayang.

Takut penyakitan? Rabies? Tidak kawan. Kunci memelihara kucing hanya 1, jaga kebersihannya. Insya Allah tak akan menyebabkan penyakit.
Hari perpisahan tiba, memang sudah takdirnya. Piping sudah sakit sejak beberapa bulan lalu. Meski sudah pulih, kemudian piping sakit lagi. Badannya lemas dan tak mau makan. Ibarat manusia, mungkin piping sudah uzur. Aku pernah membeca bahwa umur rata-rata kucing adalah 8 tahun. Piping, berumur 6 tahun lebih saat itu.

Dipenghujung rasa sakitnya dipembaringan, dua helaan nafas terakhir. Kemudian nafasnya berhenti dan badannya kaku. Innalillahi wainna ilaihi rojiun.……

Selamat jalan Piping, harum syurga telah menantimu. Aku berharap berjumpa lagi, pun pada Kimba dan Ayek dan berkumpul lagi disana, dalam naungan Jannah Nya.

Bukan tentang dramatisasi, hanya ingin mengenang seekor hewan peliharaan yang disayang.

Arti cinta, tak hanya pada kekasih manusia, pada hewan pun engkau bisa membagi cinta sesuai porsinya. Kasih sayang pada hewan peliharaan yang Rasulullah ajarkan.

2 thoughts on “Ada masanya berpisah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s