@_@

Ini yang dinamakan kehidupan sesungguhnya. Fase awal, lepas dari status sebagai mahasiswa. Shockku belum pulih ketika tahu yang kuajar adalah para bocah yang notabene tak pernah terpikirkan dalam benakku. Jauh dari matematika sebagai hal yang kusuka, dan menjadi “Ibu pengganti” bagi mereka. Lemah terkulai rasanya, bukan senyum tapi kening berkerut dan perasaan campur aduk.

 Adik, aku tak punya? Pengalaman mengajar mereka? Jangan ditanya. Jauh…….

Tapi itu bukan alasan, karena kontrak sudah ditanda tangan.

Perkelahian yang tak berkesudahan, tangisan, serta aduhan remeh temeh lainnya. Oh anak-anak… duniaku dulu tak sebegitunya jika dibanding kalian. Hari pertama hingga seminggu kedepannya, kepala ini selalu pusing sampai pulang sekolah. Ini minggu ketiga, dan aku masih merasa terbata ketika menjaga mereka. Semua kondisi ini, memberatkan hati. Semenjak itu, alergiku selalu kambuh tak terkira tiap malam. Padahal hujan sudah jarang. Iya, ini karena stress dan tak jarang, aku harus makan  coklat sebagai pelarian rasa stress ini, to sekedar menurunkan pressureny sedikit.

Ah, ini bukan cerita keluhan.

Tapi sebuah kisah perjuangan.

Kejutan apa saja yang akan ditemukan setiap harinya?

Sejauh mana bertahan?

Soal air mata, tak usah ditanya.

Suatu pagi, satu hari setelah wisuda. Tatapan wajah-wajah itu tampak tak bersahabat.

Dan itu sangat tidak membuat nyaman, aku masih berusaha tersenyum… tapi, hatiku kecut juga.

Sudah puncaknya, dan akhirnya tumpah juga butiran-butiran itu saat sholat dhuha

Satu hari, seminggu, bahkan hampir  sebulan keinginan resign itu tetap ada.

Meski sekuat tenaga perasaan itu kulumat dengan logika, tapi semakin bertahan semakin sesak.

Aku guru termuda, iya paling kecil disana. Dan itu sebenarnya tak terlalu jadi masalah.

Bukan keluhan, bukan minta diringankan beban, hanya butuh pundak yang kuat untuk menanggung dan menjalani semua yang dianggap sebagai tantangan kehidupan

bukan beban.

Ini fase awal memulai kehidupan pasca kampus.

Sungguh……. Aku rindu masa kuliah, saat dengan lantang berteriak “Hidup Mahasiswa”

Berada bersama teman-teman sesuhu yang kurindu nasihat juga nyamnnya berada dekat dengan mereka

Diskusi-diskusi singkat bermakna yang selalu menjadi penguat saat bersama

Juga senyum dan tawa ketika melakukan  hal konyol yang kadang memang disengaja

Aku ingin S2 saja….

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s