perasaan adalah perasaan

Kalian tahu apa arti pepatah jawa: witing tresno jalaran soko kulino?

Ah kau pasti tahu. Tentang cinta, siapa sih yang tak tertarik? Siapa sih yang tak mau tahu?

Iya, cinta bisa tumbuh karena terbiasa. Awalnya kau tak mengenalnya, kemudian tak sengaja bertegur sapa, sering bertemu tanpa sengaja, kemudian timbullah sebuah rasa.

Awalnya tak dekat, karena sudah saling kenal, sering smsan ga urgen, mention-mention ga penting, komen-komen main-main. Eh…eh… kemudian ada something, Thing-thing. Itu norak sekali. *ups

Ini bukan postingan menyindir ataupun mencibir. Tapi sebuah perhatian lebih dan sebuah keprihatinan yang boleh jadi kau bilang berlebih. Aku sudah pernah memposting hal serupa sebelumnya. Tapi entahlah kata ini meluncur lagi. Hanya ingin berbagi… jika tak suka, kau boleh tak membacanya. Aku tak memaksa :p

Siang itu, seseorang bercerita padaku. Lagi-lagi klise, masalah virus itu. Apalagi kalau bukan si merah jambu. Ah kenapa kau dekat-dekat dengan temanku virus? Bahkan saat usianya sudah tak remaja lagi. Dia sudah dewasa, cobalah engkau datang dengan lebih sopan. *emang virus bisa gitu mi? he

Hanya satu saja pesan pentingnya, mengapa virus itu bisa datang?

Coba amati lagi pepatah yang kusampaikan diawal tadi kawan.  witing tresno jalaran soko kulino? Iya, cinta bisa tumbuh karena terbiasa.

Ada pelajaran penting dalam pepatah itu. Engkau bisa jatuh cinta hanya karena kebiasaan (intensitas yang sering). Aku baru saja khatam membaca novel kau, aku dan sepucuk angpau merahnya bang Tere Liye. Disana dikisahkan bahwa rasa itu bisa tumbuh dari seringnya berjumpa, seringnya berinteraksi, juga seringnya memenuhi janji. Ah lambat laun perasaan itu tumbuh dengan sendirinya. Suka, cinta, itu manusiawi. Fitrah.

Tapi bagaimana seharusnya sikap kita terhadap perasaan itu?

Ah, kau lebih tahu jawabnya kawan.

Sejatinya, rasa suka tidak perlu diumbar, ditulis, apalagi kau pamer-pamerkan. Semakin sering kau mengatakannya jangan-jangan dia semakin hambar, cukup simpan rapi gembok di dalam hati, bukan kau bagi sana-sini. Kode-kode itu ini ataupun apalah. dan jika sudah bertemu anak kunci yang pas dan indah waktunya, maka bukalah. Itulah saat kau boleh mengumbarnya sesukamu.

Maka bagaimana untuk menghindarinya agar semua tak mekar sebelum waktunya? Kau hindari saja soko kulinonya. Menjauhlah dari kebiasaan-kebiasaan itu. Kebiasaan yang bisa menambah noktah merah jambu dihatimu.

Perasaan itu tak sesederhana satu tambah satu sama dengan dua. Bahkan ketika perasaan itu sudah jelas bagai bintang di langit, gemerlap indah tak terkira, tetap saja dia bukan rumus matematika. Perasaan adalah perasaan. (Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah : 355)

 lalu siapa yang mengendalikan perasaan?

 

 

 

13 thoughts on “perasaan adalah perasaan

  1. komennya sil exstrem gitu.. kan punya mata utk melihat.

    tertarik jg tuk baca buku ttg angpau.

    virus ya, menular nggak kira2.
    tapi yakin saja setiap orang memiliki kekebalannya masing2.

    ttp saling mengingatkan.
    gue #rohis bukan #teroris perasaan.*loh

    • sebagus-bagusnya vaksin, kalo sistim imun tak baik, virus bisa menular.
      *celoteh ala bu dokter

      iy pentingnya saudara, saling mengingatkan y.

    • semua itu mungkin saja benar, tapi tidak bisa menjamin.
      terkadang meski sdh ada antivirus, t2p saja virus bs mendobrak dan menerobos masuk.
      seperti hembusan angin, tak terlihat namun dirasakan.

      hanya masalah sikap, iya perasaan adalah perasaan.
      siapa yg mengendalikan?
      *ngomong apa saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s