kau seorang guru

Semua urusan daftar wisuda sudah selesai sejak 14 agustus lalu. Dan ramadhan pun bisa dinikmati full meski hanya tinggal beberapa hari lagi. 19 agustus, idul fitri tiba. Merayakan kemenangan setelah sebulan berjuang. Bahagia bukan? Bahagia karena sudah mendapat gelar yang meski belum resmi, dan bahagia bisa sampai pada hari nan fitri meski terselip duka berpisah dengan bulan penuh berkah. Beberapa hari lebaran diisi dengan silaturrahim, sedikit lega karena pertanyaan kapan wisuda itu bisa dijawab dengan senyum lebar. Uuff… sebuah kelegaan tersendiri.

Tapi, belum genap seminggu pasca lebaran pikiranku melayang-layang. Apa rencanamu setelah ini? Itu juga pasti pertanyaan orang-orang sekitarku. Lowongan PNS dengan lulusan FKIP matematika belum ada. Sebenarnya tawaran mengajar privat ataupun bimbel sudah banyak berdatangan. Masalahnya hanya ada padaku, sudah siapkah? Simpel sebenarnya tapi entahlah saat itu begitu terlihat rumit.

Pernah sekelebat terpikir ingin langsung lanjut S2 saja. Tapi di bulan sekarang, mana ada lagi kampus yang membuka pendaftaran? Ah… semakin bingung, aku cukup iri dengan rencana hebat teman-teman yang lain yang sangat semangat menceritakan rencana indah mereka. Sedang aku hanya bisa memendamnya saja. Sudah lulus saja aku cukup  bersyukur. Setidaknya aku bisa mengurangi pengeluaran Bapak untuk SPP kuliahku. Meskipun beliau memang sudah menyetopnya sejak semester lalu. Beliau memang bilang, jatah kuliah hanya 7 semester. Untunglah semester kemarin uang tabunganku ditambah kakak cukup untuk membayarnya.

Disela-sela pikiran kosong itu, entahlah aku terpikirkan sebuah sekolah islam terpadu. Ada bisikan dihatiku, kenapa tak kau coba saja mengajar disana sembari menunggu waktu wisudamu? Ya bisikan itu sangat kuat mempengaruhiku, dengan cepat aku mengsms temanku yang bekerja disana. Kemudian keesokan harinya surat lamaran itu kubawa. Bahkan saat itu juga aku dengan 2 orang lainnya di tes. Sungguh ini terlalu cepat. 2 hari melewati tes. Tes tertulis, baca alqur’an, dan micro teaching semua kujalani tanpa beban dan entahlah aku begitu yakin. Keesokan harinya tes terakhir, wawancara. aku dipanggil paling akhir. Sungguh sangat shock ketika tahu bahwa lamaranku justru masuk k SD, bukan SMP. Ah… mundur sudah tanggung. Semua pertanyaan diwawancara itu kujawab mantab seolah pernah tes wawancara saja. Bahkan aku sendiri tak menyangka bisa mengatakan hal-hal yang kusebutkan. Ini terlalu cepat. Aku bingung.

Ya benar saja  keesokan harinya, panggilanpun datang. Dari kami bertiga, hanya aku diterima. Jujur sebenarnya aku justru ingin mundur saat itu juga. Aku tak yakin bisakah menghadapi anak-anak itu, sedang aku sendiri tak punya background  PGSD sama sekali. Sungguh ini terlalu cepat, dan aku sangat bingung.

Kau baru saja akan memulai perang mi, apa kau akan mundur begitu saja sebelum melihat medannya? Batinku. Mungkin itu bisikan nurani. Iya, bisikan malaikat yang menyemangati untuk berbuat kebaikan.

Ya, aku mencobanya. Selamat datang di sekolah baru. Kau seorang guru.

 

 

 

One thought on “kau seorang guru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s