sebentuk rasa: perhatian

Bolehkah  aku bilang kecewa?

Iya, jika harapanku  pada mereka yang seharusnya faham tetapi kadang tak seperti yang diharapkan.

Bolehkah bila aku bilang cemburu?

Iya, jika interaksi itu terlalu cair dan lupa batas meski hanya bergurau.

Mungkin aku yang salah menaruh harapan?

Tidak, manusia  memang banyak cela untuk khilaf dan sangat butuh saling mengingatkan.

Mungkin engkau akan mengatakan bahwa aku adalah seseorang yang sangat pencemburu

Iya, boleh saja.

Tapi Allah juga pencemburu lo…

Ya, itu yang kuingat saat pertama mengenal indahnya melingkar.

Masa putih abu itu sedikit terwarnai, dan itu pesan pertama yang kutahu.

Dan sedikit demi sedikit kulumat hingga benar-benar bisa ku mengerti hingga saat ini.

Mengapa harus merasakan dulu? Baru bilang jera dan berubah?

Padahal kau bisa saja langsung memahami dan belajar dari nasehat dan pengalaman orang lain.

Hingga tak kan mengulangi hal yang sama dengan mereka.

Mungkin kau akan mengatakan:  ah itu hanya perasaanmu saja yang berlebihan

Iya boleh saja, aku tak melarangmu mengatakan itu

Mungkin juga itu refleksmu yang berbicara bukan perasaan dan logikamu yang mencoba memikirkannya baru berbicara.

Jika belum waktunya berbuka, rasa itu tak perlu kau tunjukkan kepadanya atau pun mereka.

Tak satu pun, sebelum waktunya.

Saat kau siap ucapkan 3 kata yang dinanti itu

Kau lebih tahu hakikat menjaga.

Iya, cukup dirimu dan Allah. Itulah menjaga yang sesungguhnya

Sebab jika benar-benar tak terjaga kau bisa mengotori hatimu sendiri, bahkan hati orang lain.

Orang lain yang mungkin merasa tak sepantasnya membacanya, atau mungkin membuat kecewa orang lain yang sebenarnya menjagamu dalam hatinya.

Meskipun niatmu hanya bergurau,

Tidak, jangan. Cukup kau simpan saja.

*kadang dunia nyata dan maya terlihat jauh berbeda. Bisa saja kau lihat beberapa dari mereka begitu cair ketika berinteraksi di dunia maya namun dalam dunia nyata mereka diam seribu bahasa dan kaku bila berjumpa. Kau boleh anggapku terlalu berlebihan menanggapinya, tapi sungguh aku prihatin atas semua ini. Ukhti, masih banyak saudarimu yang lebih butuh interaksi denganmu. Akhi, masih banyak saudaramu yang lebih butuh interaksi denganmu. Tidak dengan interaksi yang kadang tak jelas, gurauan, atau pun hal tak penting lainnya meski kadang kau anggap hiburan (?).

Hanya sebentuk rasa, keprihatinan.

Ash shaff: 2-3

tulisan ini tak lebih adalah nasehat untuk diri sendiri. Pun jika bermanfaat untuk yang lain, semoga bisa sama-sama memperbaiki diri.

Watawaa showbilhaq watawaa showbishshobr  (dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran)

 

 

 

5 thoughts on “sebentuk rasa: perhatian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s