Ismi, Mimi, Cemi. Kamu manggil aku siapa?

agak ragu menuliskan ini tapi, di publish saja lah.
sampaikanlah walau satu ayat

Namaku Ismi Yuliana. Nama cantik pemberian orang tua. Ahad pagi, 22 Juli 1990 pukul 09:20 dilahirkan di rumah seorang bidan bernama Is…. *Apa ya lupa. Kata Mamak saat itu, bidannya mau pergi kondangan tapi karena kedatangan kami kondangannya sempat tertunda. Hehe… iyalah mau kehadiran bayi cantik di kliniknya *Narsis….tuing. Itulah kenapa nama depanku Is, kata Mamak dari nama bidan itu, Yuli karena lahir di bulan Juli dan Ana menunjukkan bahwa perempuan. Simpel ya, tak seperti sekarang kakakku saja cari nama anaknya ribet. Hanya sebatas itu yang ku tahu arti namaku saat itu. Tapi saat sudah sekolah, di TPA seorang Ustadzah bilang kalo namaku itu bahasa arab, Ismi = nama saya. Ooo…. Ternyata ada artinya juga ya. Jadi setiap belajar bahasa arab, setiap perkenalan ismi selalu disebut sebelum nama orang lain. Man is muki? Ismi ismi… dobel. Lalu tertawalah teman teman yang lain. *Hihi. Wah… masa TPA yang lucu. Terus waktu les bahasa inggris, Sir juga bilang kalo tulisan namaku Isme, Is = adalah, me = saya. Tak jauh beda dari arti yang pertama. He… apalah. Namaku paling beda dari 2 kakakku, Aidil Fitriansyah dan Andri Firmansyah. Sekilas nama mereka seperti kembar, sangat jauh dari namaku. Ya.. jelas mungkin karena memang jenis kelaminnya juga beda.

Sejak lahir, Mamak memanggilku dengan nama Ismi. Pun ketika hanya menyingkat beliau memanggil Mi kecuali Kakak, ya… mereka memanggilku Adek. Tapi… sekarang…. Tahukah kamu…. Nama panggilanku jadi banyak. Hmmm… iya, bahkan nama pun punya sejarahnya.

Mimi, Panggilan baru saat SD. Sejak kecil aku suka anak kecil, ya… karena aku tak punya adek. Jadi ketika melihat bayi mungil nan lucu, aku ingin bermain dengannya. Sudah bosan main dengan kakak yang mainannya ekstrim semua, mulai dari ngejar layangan yang lego, cangkaloeng, bentengan, pantak lele, ekar, berburu kinjeng dan cicak serta manjat-manjat pohon. Mainan yang sangat jarang ditemukan sekarang *Wah… masa kecilku heboh juga ya. Astaghfirullah… kamu cewek apa cowok mi? he…

Ok fokus ke Mimi. Saat SD aku sering main ke rumah Bibik di dekat rumah yang punya bayi. Bermain sekedar untuk membantu menyuapinya makan atau mengajaknya jalan-jalan sore. Iqbal, nama adek kecil itu. Dialah yang pertama memanggilku Mimi. Saat itu Bibik memperkenalkan namaku padanya, ini yuk Ismi. Tapi Iqbal hanya bisa menyebut belakangnya, Mi. suatu saat kami main di tanah tanjakan di dekat rumah nenek. Tiba-tiba Iqbal memanggilku panjang, Mimimimimi karena sangat girang. Sejak saat itu dia memanggilku Mimi, Yuk Mi. Dulu nama itu hanya special Iqbal, karena hanya dia yang memanggilku Mimi. Teman-teman SD masih menggilku Ismi. Barulah resmi saat di SMP beberapa teman dekatku memanggilku Mimi. Ya aku mulai terbiasa jika semua orang memanggilku Mimi. Dulunya nama ini memang hanya untuk orang-orang yang sudah lama kenal. Akan sedikit canggung jika ada orang yang baru kenal tapi langsung memanggil dengan nama ini. Setiap kenalan dengan orang baru, aku hanya mengenalkan nama Ismi. Jadi, Mimi hanya untuk orang yang sudah kenal lama saja. Atau mereka yang tahu dengan sendiri, ya itu artinya mereka sudah kenal bukan hanya tahu.

Cemi. Lain dikalangan para adik kecil, lain pula saat berada di kalangan para ayuk dan kakak saat kumpul. Semua berawal dari masa kecil SD. Saat masa kecil kami sekeluarga besar nenek yang di Palembang sering kumpul di rumah Wawak di Gelora. Wawak punya 4 anak yang semuanya jauh lebih tua dari kami. Jaman dulu ya, setiap anak mungkin memang punya panggilan sayangnya masing-masing dari setiap orang. Ah tidak, jaman sekarang juga. Nah saat kumpul itulah aku dipanggil Cemi. Ayuk lebih suka memanggil dengan nama itu, ya katanya dulu gemes karena masih kecil. Itu nama panggilan dari para ayuk dan kakak saat itu, bahkan sampai sekarang mereka masih menggilku dengan nama itu kalau kami kumpul. Tak jauh beda, masih ada unsur mi. Adik misanku malah dapat panggilan yang sangat jauh dari namanya. Hihi… lucu saja. Yunia, dipanggil Oyik. Reta, dipanggil Obot. Ica, dipanggil Dudut. Jadi yang manggil Cemi.. berarti kuanggap dia lebih tua dariku ya. Hehe…

Itu nama. Sekarang lain lagi, sejak kuliah semua teman di kelas ku jadi punya sapaan baru. Sangat aneh memang, tapi itu panggilan saying katanya. Keluarga besar HIMMA 08. Di kelas itu ada: oma, nenek., tante, oom, makwo, mbu, cut, adek, yuk, ayuk, kuyung, akang, keyang, bebe, busuk, uni, mon, mama, bibik, teteh, uget-uget, mbak dan masih banyak lagi yang lain. Ckckck ini kreatif atau apa ya. Ayo..ayo… ada yang tahu di kelas aku dipanggil siapa?

Alkisah saat semester awal masuk kuliah, Mamak bertemu Makwo (sepupu Mamak) saat arisan keluarga setelah sekian lama tak jumpa. Makwo cerita kalo anaknya ada yang masuk Unsri FKIP Matematika. Mamak juga bilang kalo aku kuliah di jurusan yang sama. Jadi saat itu aku baru tahu kalo punya saudara di kelas. Ha…teman-teman yang tahu jadi heboh. Saudara ktemu besak. Sejak saat itulah sering di panggil Makwo oleh mon dan yang lain. Awalnya risih, aneh dan tak suka. Tapi lama-lama, sapaan itu melekat. Tak buruk, itu sapaan tanda sayang mereka. Dan sekarang sangat aneh jika mereka yang biasa memanggil wo tiba-tiba manggil nama. Ha… lucu ya. Bahkan sapaan pun bisa mengakrabkan seseorang.

lalu, kamu manggil aku siapa???

Apa pun panggilan atau sapaan yang kita tujukan pada orang lain, panggillah dengan nama dan sapaan yang disukai orang tersebut. Jangan memanggil dengan sapaan yang buruk dan tak disukai.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[1410] dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Q.S. Al- Hujurat : 11)

22 thoughts on “Ismi, Mimi, Cemi. Kamu manggil aku siapa?

  1. ^_^ sdh ada d statement di atas, tersirat
    Awalnya risih, aneh dan tak suka. Tapi lama-lama, sapaan itu melekat. Tak buruk, itu sapaan tanda sayang mereka. Dan sekarang sangat aneh jika mereka yang biasa memanggil wo tiba-tiba manggil nama.

    aku menyukainya, spesial to kalian #ciieee

    Bgmn dgn tiw?

  2. kalau dulu orang tua sering ngasih nama dari masukan bidannya.. kata nyokap, yang kasih nama saya juga bidan yg ngelahirin…
    Betul juga, enaknya manggil orang sesuai dengan panggilan yang disukai…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s