ada hikmah dari kisah sebuah perjalanan

“Agar niat baik tak hanya sekedar niat, terkadang berbuat baik memang harus dipaksakan”.

Itulah salah satu pesan di salah satu materi yang pernah disampaiakan beliau. Tentang hak-hak saudara, indahnya silaturrahim, atau pun refreshing saat dibutuhkan. Hari itu sabtu, 16 Juni 2012 pengurus Nadwah berencana akan menghadiri walimatul ursy salah satu alumninya di Lubuk Linggau. Iya, salah satu agenda memenuhi hak saudara ,silaturrahim dan sekaligus rihlah menurutku.

Dengan segala keputusannya,akhirnya kepergian dibagi dalam 2 kelompok: ikhwan berangkat pagi dan akhwat berangkat malam. Meski banyak “kisah” sebelum berangkat, tapi akhirnya… niat baik itu terlaksana juga. Mengapa kubilang “kisah” bukan kendala? Hanya ingin belajar berpositif thinking saja agar bisa memetik hikmah dari setiap kisahnya.

Hikmah adalah barang hilang seorang mukmin,
hendaknya dia mengambilnya dimana saja dia mendapatkannya. (Riwayat Ibnu Abi Syaibah)

Sebenarnya aku sudah memutuskan untuk tidak ikut ke sana karena kondisi yang benar-benar tidak memugkinkan untuk berangkat. Beberapa sms ku kirim dibalas: afwan ukh ana g bisa, afwan ukhti ana ada ujian seninnya,dll. Tapi bak rezeki, pertolongan Allah datang di saat yang tak terduga. 3 adik di limit waktu konfirmasi, mengabarkan bahwa mereka akan ikut berangkat. Padahal di waktu sebelumnya mereka mengatakan seninnya akan ada 3 ujian dan masing-masing mata kuliah 3 sks. Tak bisa dibanyangkan, dengan nekat mereka memutuskan untuk ikut.

Ya bagiku, ini hanya masalah mau atau tidak mau. Bukan bisa atau tidak. Dan sedikit pengorbanan…

akan mudah jika aku mau, dan akan terasa sangat sulit jika aku tidak mau.
Dimana ada kemauan disitu ada jalan.

Tapi tidak semua orang berpikiran sama dengan kita. Semua orang juga punya hak dan lebih tahu atas dirinya sendiri.

Tepat pukul 20:00, 2 mobil itu pun akhirnya melaju dari sebuah masjid kampus. Meskipun jauh dari waktu yang disepakati, ba’da maghrib. Aku cukup heran mengapa budaya ngaret kadang sangat melekat. Meski tak kupungkiri aku pun sering ngaret, hehe… astaghfirullah. Tapi tidak seharusnya dengan urusan seperti ini menurutku. Dengan tergopoh-gopohnya berangkat dari rumah dan tak sempat makan malam, membuatku agak emosi melihat kenyataanya. Ya.. ketakutanku ditinggal terlalu berlebihan nyatanya.

Bagiku ngaret boleh, asal tak merugikan orang lain. Seperti datang kajian, yang rugi kan diri sendiri sedikit dapet ilmu. Tapi jangan untuk hal-hal yang bisa merugikan orang lain. Bagiku kalau yang dirugikan diri sendiri masih ada toleransi, tapi jika ngaret membuatmu merugikan orang lain. Seharusnya segera instrospeksi diri. Ada pihak lain yang terdzolimi (agak lebay y) dan kata maaf tak menjadi penyelesaian masalah jika akan terus diulangi. Itu juga yang sering jadi masalah di kalangan aktivis padahal sudah sama-sama tahu. Aku sangat ingat ketika LSc, salah satu peserta menyatakan keluhannya tentang waktu ngaret juga. Dan aku sangat sepakat. Memang butuh kesadaran dari masing-masing diri. Tapi, mungkin juga salahku karena sebelum berangkat tak mengkonfirmasi lagi apakah sudah berangkat. Oh waktu… semoga dikemudian hari kita bisa berdamai lagi ya… 1,5 jam, waktu yang lumayan untuk menunggu. Tapi tempat ternyaman untuk menunggu memang masjid, ada banyak hal yang bisa dilakukan. Agar menunggu menjadi berkualitas. Berkualitas? iya…

Diperkirakan butuh waktu 8 jam untuk sampai di Lubuk Linggau. Berarti kami akan sampai sekitar pukul 4 subuh. Mobil kami dihuni oleh 3 angkatan 2010, 2008, dan 2 orang kakak 2007. Heterogen, dan pasti menyenangkan. Sedangkan mobil lain dihuni sebagian besar oleh angkatan 2007 dan hanya 1 orang 2008. Ya.. sudah dapat dipastikan mereka sedang bernostalgia, sama sekali tak ada yang dengan suka rela pindah ke mobil kami padahal mobil mereka terlalu penuh dengan 9 orang, sedangkan mobil kami hanya 7 orang. Ya… jadilah hanya aku dan Iko yang menjadi tetua di mobil itu. Sepertinya ini perjalanan jauh pertamaku bersamanya. Hhmm… jadi inget temen-temen “Derumput”. Kapan ya kita bisa jalan jauh bersama seperti ini. Maaf kami tak pamit, hehe baru inget saat Rika dan Sil heboh menanyakan keberadaan kami. Maaf ya… kupikir ini tak penting. Tapi, ternyata bagi mereka cukup penting. *PD nya mi… hehe

Perjalanan kami diisi warna-warni kisah, dari cerita yang tak sengaja membuat lucu, tentang mind set (sudut pandang), dan kisah nostalgia saat berada di wajiha yang sama atau pun sekedar celetuk ria mengomentari jalanan yang jelek atau pemandangan sekitar jalan yang kami lalui.
Aku jadi senyam-senyum sendiri sambil menulis ini. Mau ketawa dulu ya… hehe. Dasar mimi! *tuing

dari cerita semangat salah seorang kakak yang menceritakan pengalamannya selama merantau di Palembang. Saat itu kalau tidak salah, beliau sedang mencari alamat rumah seorang Bapak di daerah kertapati, karena takut nyasar beliau bertanya pada penduduk sekitar. Kakak yang dari Batam tak tahu saat mendengar kata jerambah yang dikatakan penduduk sekitar. “sano lagi, sebelah jerambah”, atau yang lain “oh.. di situ, di seberang jerambah, dak jau lagi”. Akhirnya dengan sangat pusing dia mencari-cari, dan setelah menemukan rumahnya barulah dia tahu apa itu jerambah. Ketemu juga. Kalian tau apa jerambah???
Hehe… Kisah “jerambah”, kosa kata lama yang baru kudengar lagi. Membuat seisi mobil tertawa. Karena kisah itu, sepanjangan setiap melihat jembatan kami selalu memanggilnya jerambah dan selalu membuat kami tertawa. Ada-ada saja. Padahal dalam makna sesungguhnya jerambah itu hanya untuk jembatan kecil yang terbuat dari kayu yang hanya muat untuk pejalan kaki saja. Itu yang ku tahu saat kecil dulu. *jerambah, sesuatu. Palembang nian!

Kata salah seorang kakak, tertawa dan bahagia itu bisa mengaktifka hormon endorphin dengan sendirinya sehingga membuat pikiran dan otak kita segar. Ya dia sedang membutuhkannya, karena dapat dipastikan malam itu dia tidak akan tidur karena menyupiri kami. Sehingga sangat bersemangat mencai-cari cerita lucu agar tertawa.

Ada lagi cerita yang lebih seru dan menegangkan, tapi mungkin tak terlalu detail ya… Aku lupa awalnya, karena saat itu kami tertidur dan terbangun mendengar diskusi hebat 2 orang kakak. Kami cukup menjadi pendengar setia di mobil itu, meski sesekali ditanyai dan berkomentar.

Ini tentang mind set. Saat itu sekitar pukul 2 pagi, salah seorang kakak bernostalgia menceritakan kisahnya dalam sebuah wajiha tapi saat disatu titik dia mengomentari kejadian yang pernah terjadi dalam wajiha itu dan hanya berfokus pada subjek “orang” sehingga keluarlah pernyataan seperti menilai seseorang. Kakak yang satunya langsung berkomentar, sangat terlihat bahwa dia sangat tidak suka dengan pernyataan yang seperti menilai itu. Dia berkata: kita tidak boleh mengatakannya seperti itu. Sebenarnya ia (orang yang menjadi subjek) punya potensi besar untuk bergerak dalam usianya yang masih seperti itu. Gebrakannya bagus, hanya saja butuh bimbingan. Bukan tidak bagus. Sangat terlihat bahwa sang kakak punya pemikiran yang positif. Iya husnudzhon… dari setiap kata yang keluar tak ada kata negatif. Belum selesai menjelaskan, yang satunya menimpali lagi. Tapi, dia dengan tegas lagi-lagi menekankan alangkah pendeknya umur kita jika hanya diisi untuk menilai orang lain. Coba liat dari sisi positifnya… yang terpenting itu bukan komentar kita, tapi apa yang bisa kita lakukan untuk mereka.

“Kerja”, iya aku sedikit berfikir dimana posisiku diantara 2 kakak ini. Disatu sisi memang tak baik membicarakan orang lain diskusi ini juga bisa berdampak jika tak segera diakhiri. Salah seorang adik sudah ketakutan melihat diskusi yang belum berkesudahan sambil memegangi tanganku. Kami cukup khawatir dengan pembicaraan itu. Akhirnya dengan berani, aku menyela pembicaraan mereka. Seperti closing statement dan membuat kesimpulan sendiri. Iya sudah ada hikmah yang bisa kami ambil kak menurutku, seolah tak berpihak pada siapa pun aku hanya menjelaskan ulang yang mereka berdua katakan. Alhamdulillah… akhirnya diskusi panjang selesai. Tapi jam sudah menujukkan pukul 3 lewat, ya.. dan efeknya tak bisa tidur lagi.

Kata-kata itu mungkin bisa membuat kita berfikir, dulu dan sekarang, dimana posisi kita? mungkin kita dulu juga pernah menjadi subjek seperti yang mereka bicarakan atau mungkin juga sekarang. Dan diposisi mana kita menanggapi subjek?

Berpikir positif, aku punya bukunya meski pun belum khatam membacanya. Setidaknya dampaknya memang bisa terlihat. Ya Allah semoga juga bisa selalu berpikiran positif meski kenyataannya masih jauh. Tapi harus berusaha…

Ah jadi terbawa emosi saat menceritakan bagian ini. Dicukupkan dulu ya, mau siap-siap ke kampus.
Ini hanya sedikit kisah saat perjalanan pergi. Semoga juga bisa mengambil hikmah dari tulisan saya ^_^
Masih belajar. Dan masih ada kisah lain saat perjalanan pulang, tapi cukup disimpan saja dulu. He…

9 thoughts on “ada hikmah dari kisah sebuah perjalanan

  1. caknyo seru debat di sana tuh?? bolehlah kalian nee…
    ditunggu kisah lanjutanya…
    biar ada hikmah yg bisa dipetik..
    hahaa…
    mumpung hikmahnya gratossss…
    :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s