Negeri di atas awan

Bismillahirrohmanirrohim………..
Teriring doa ucapan dengan menyebut namaMu ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Teringat sebuah janji akan menuliskan sesuatu pada beberapa teman yang sudah beberapa hari menanti dan menanyakan. Akhirnya… bisa dipublish juga. (hehe*sok sibuk) tak kuasa menundanya berlama-lama. Sampai-sampai terbawa mimpi berangkat lagi nih….

Ingin saja judulnya ku tulis “negeri di atas awan”
Teriring lagunya Katon (ceile…) rangkaian kata ini pun tertulis
sedikit liriknya yang ku tahu

Kau mainkan untukku
Sebuah lagu tentang negeri di awan
Di mana kedamaian menjadi istananya
Dan kini tengah kau bawa
Aku menuju kesana

Sepertinya isi tulisanku jauh dari lirik itu…
(openingnya panjang, sabar y.. baru belajar nulis hehe)

Kisah ini diawali dari sebuah perjalanan seseorang yang bisa-bisanya pergi ke Semarang tanpa memberi kabar pada teman-temannya. Maafkan y….

Kamis, 26 januari 2012. Hari telah menunjukkan pukul 08:00 tapi kabar keberangkatan belum juga jelas, karena belum ada tiket tuk berangkat. Harusnya jika perjalanan akan ditempuh lewat jalur darat, hari itu kami sudah harus berangkat agar tak terlambat sampai di Unnes. Mengingat perjalanan akan memakan waktu 2 hari ,belum lagi ditambah kabar dari kakak katanya Bakauheni-Merak macet. Pada ngantri panjang buat nyebrang…. Ketidakjelasan itu pun membuat pintu-pintu masuk syetan untuk turut berbisik mengurungkan niat tuk berangkat. Beberapa jam kemudian kabar pun datang, singkat cerita intinya kami tak dapat tiket tuk berangkat siang itu. *sambil lirik koper yang siap di bawa, bilang sabar ya… Allah pasti punya rencana lain dibalik setiap skenario yang telah Ia tuliskan. Dan keberangkatan itu nyaris batal kalau saja ide brillian untuk naik pesawat ditolak. Pesawat? Iya pesawat. Salah satu rekan perjalanan menawarkan untuk lewat jalur udara saja. Awalnya cukup berat menjawab iya… Tak bisa ku bayangkan bagaimana rasanya, dan yang paling penting dananya. He.. iya ongkosnya. Dengan polosnya langsung saja pertanyaan itu keluar, “ ongkosnyo berapo kak?” dingdong dengan nada tertatih.

Ciut rasanya bicara soal duit dan lagi-lagi duit, ujung-ujungnya duit sedang diri belum punya penghasilan, hanya mengandalkan uang tabungan hasil belas kasihan dan rasa sayang(?) kedua kakak dan kedua orang tua ++ sisa-sisa uang jajan. *sisa? Ups. Hehe itu klo semangat jajannya lagi tinggi, ya jadi sisa (geleng2 nyebut astaghfirullah). Malu rasanya meminta pada mereka, terlebih lagi ini bukan urusan akademik kuliah. Tapi selalu ada… saja, dimana ada kemauan insya Allah disitu ada jalan. Karena setiap rezeki sudah di atur oleh yang Maha Pemberi Rezeki juga Yang Maha Kaya.

Akhirnya diputuskanlah bahwa keberangkatan ditunda besok dan naik pesawat. Skenario yang indah bukan. Ah entahlah aku sudah biasa berdamai dengan kondisi-kondisi yang mengejutkan seperti ini, karena menurutku seberapa indah rencana kita Allah punya rencana yang lebih indah untuk kita. Rasakan saja hikmahnya ketika campur tangan Allah membumbui segala peristiwa hidup kita, ah… sulit diungkap dengan kata betapa indahnya. Meski terkadang yang dirasa pahit, ternyata buahnya sungguh manis kawan. *dramatisasi

Membayangkan bagaimana rasanya basok naik pesawat. Pengalaman pertama nih…. *dasar udik

Jum’at, 27 Januari 2012
Jadwal keberangkatan pesawat 14:15, usahakan 13:30 sudah di bandara untuk check in. isi sms sang ketua rombongan. Dengan agak tergesa-gesa ba’da sholat jum’at pun berangkat dari rumah menuju bandara diantar sang Kakak. Seperti biasa dengan sedikit omelan khasnya ketika melepas sang adik satu-satunya ini, yang selalu setia jadi partner bebala di rumah, ada saja tingkah jahilnya yang menakut-nakuti dan mengejekku karena baru akan merasakan pengalaman baru ini. Ah meski begitu aku tahu betapa sayangnya dia padaku (PeDe hehe). Salim sayang pada Mamak, dengan tatapannya yang kutahu penuh doa dan akan merindu.

Akhirnya 13.20 sampai di SMB II. Celingak-celinguk nyari kawan. Kuingat ingat ada untungnya juga waktu SMA bersama 3 teman yang lain sengaja main ke sini sekedar numpang foto dan sholat, setidaknya aku tak terlalu asing dengan tempat ini. (hmm..temanku, apa kabar mereka sekarang?)

Menunggu sesuatu yang sangat mengenakkan bagiku… *lho? bukan, ini bukan lagu. Tapi setelah sampai di Bandara kami memang harus menunggu. Menunggu seseorang yang membawa tiket kami, beliau terjebak macet. Sambil menatap jalan berharap sang kakak segera tiba, Ya dengan was-was kami menunggu karena saat itu jam ditangan sudah menunjukkan pukul 14.45 tapi sang ketua rombongan belum juga tiba. Ini nih saking khawatirnya, takut kayak di film2 itu ketinggalan pesawat. Kan g lucu…

Akhirnya, 14.50 yang ditunggu tiba juga. Senyum pun merekah… cling ^__^

Cihuy masuk…masuk…. *lebey amat (tapi itu cuma kata dalam hati saat itu kok)

Berada dalam burung besi, Kursi 36 D E F.
Sayang rasanya melewatkan satu moment saja tentang segala pernak-pernik dan alur dari perjalanan di dalam pesawat ini, batinku. Karena tak terlihat, aku agak sedikit mendongakkan kepala ataupun sekedar mencari celah di antara bangku-bangku di depan, untuk sekadar melihat apa sih yang sedang diperagakan sang pramugari dan pramugara itu.

Dengan monotonnya *maaf hehe mereka memperagakan cara memakai sabuk pengaman, alat bantu pernafasan, juga baju pelampung pada para penumpangnya. Dan dengan setianya aku masih saja memperhatikan mereka memperagakannya hingga selesai.

Sensasi naik pesawat, kakak bilang nanti saat pesawat akan take off mungkin rasa mual akan begitu terasa bagi yang baru pertama. Langsung saja kuingat pesannya untuk mengunyah permen sekedar untuk menetralisir ataupun jaga-jaga kalau-kalau mual. Benar saja, Beberapa kali turbelensi, grasak-grusuk suara gemuruh berefek aliran darah berdesir-desir juga degup jantung yang tak menentu, telinga yang berdenging-dengin juga… rasa mual yang menyergap. Astaghfirullah…astghfirullah… kata-kata itu yang keluar saat kondisi tersebut berlangsung, sambil mencubit-cubit tangan adik disebelahku. *maaf ya dek.. tanganmu jadi korban. Hihi Mungkin hanya aku yang (aneh) saat itu. Ya… sulit menyembunyikan ekspresinya. Sedang mereka berdua hanya senyam-senyum menonton aksiku(?).

Sepuluh menit berlalu, pesawatnya berjalan normal. Nampak tak berjalan malah. Dan aku, baru bias menikmati tontonan dari sebuah jendela yang ku sebut layar 10”. Nampak benda-benda di bawah sana seujung jari terlihat dari ketinggian, kemudian hilang…kemudian tertutup putihnya awan. Iya… awan. Sungguh indah kawan… namun sayang, saat itu aku hanya bisa merekamnya dalam mempri super hebat pemberian Allah ini saja. Karena saat itu kameranya ada di dalam tas di bagasi. Moment langka yang tak sempat terabadikan tapi akan selalu dikenang. Berjalan menembus awan-awan cumulus, awan-awan rendah yang tipis. Lalu lalang dari jendela, seakan menyapa. Ah… seandainya jemariku bias menembus jendela mungkin sudah kuraih awan-awan itu. Menggapainya,merasakan seolah-olah butiran bunga ilalang nan cantik yang lalu lalang diterpa angin. *inget masa kecil.

Karena itulah aku menyebutnya “negeri di atas awan”. Dalam imajinasiku awan-awan itu asal saja kuberi nama, sang kodok, sang komodo, pohon rimbun yang indah, sepasang burung cantik, pemanah, bahkan dunia cinta. Hmm……. Sambil senyum senyum sendiri mengingatnya. Ada awan berbentuk love. Iya kawan, awan-awan itu seolah mengajakku bertamasya menikmati keindahan mereka. Dan sudah sepantasnya yang terucap dari mulut ini Subhanallah… Walhamdulillah……. Memuji Kebesaran-Nya

Dengan pemandangan yang begini saja, melalui ayat Kauniyahnya sudah tak sepantasnya diri ini menyombongkan diri kepada yang Maha Besar. Membayangkan diri saat itu berada di bawah, dan terlihat dari ketinggian. Betapa kecilnya, betapa kecilnya sungguh kecil bahkan mungkin tak terlihat dengan jelas. Semakin mengagungkan Sang Pencipta betapa Maha Besar-Nya dan Maha Kuasa-Nya Dia yang telah menciptakan segala sesuatunya dengan sempurna. Perjalanan yang begini saja sudah membuat kita takjub akan Kuasa-Nya, bagaimana dengan perjalanan Rasulullah dari Masjidil Aqso ke Sidhratul Muntaha sungguh tak terbayang betapa indah dan menakjubkannya meski hanya sebagian dari tanda Kebesaran-Nya.

Negeri di atas awan, tiga kali ku jumpai dalam satu kali perjalanan
Dengan masing-masing suguhan yang kan selalu terekam dalam ingatan
Engkau membawaku pada kisah menakjubkan, tentang rasa senang, juga perenungan
Semoga nanti kita dipertemukan lagi dalam suguhan yang tak kalah menakjubkan
Dalam perjalanan wisata penuh iman.

Alhamdulillahi robbil’alaamiin….

6 thoughts on “Negeri di atas awan

  1. Horeeeeeeeeee, saya orang pertama yang comment #LompatLompat

    keren !
    sayang nian tak ada fotonya wo.. itulah betapa pentingnya mmbawa tas kecil sperti yang sudah saya ajarkan dan contohkan.. hihii😀

    Subhanallah,,di darat,laut, dan udara. Allah menciptakan dengan sangat sempurna…agar kita dapat mentadabburi ciptaan Allah dan dapat menambah keimanan serta kecintaan kita pada Yang Maha Menciptakan..
    Subhanallah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s