rumit

Ya Allah…
ini hanya tentang rindu, mengapa begitu rumit.

aku hanya ingin bercerita,
aku hanya rindu dia yang dulu,
dia yang bisa memberiku nasehat kapan pun aku butuh.

bukan seperti ini…
bukan seperti sekarang.
kita sedarah.
aku lebih berhak.
apa salahku?
aku tak menuntut banyak

kakak….
adik kecilmu
aku?
aku… hanya ingin kau seperti yang ku kenal dulu.

mereka?
siapa mereka.

Rabbi…
*dalam sabar aku menunggu

dititik itu

Maaf jika aku tak pernah heboh lagi mengeluarkan ide-ideku lagi atau berbagai inisiatif lagi dengan wadah itu

Bukan berarti aku tak peduli lagi,

Bukan karena aku terlalu tenggelam dan sibuk dengan “dunia baruku”

Tapi lebih dari itu, karena kalian tak pernah memeperdulikan lagi kata-kataku

 

Aku bukan golongan langit yang setara dengan kalian untuk ikut campur mengurusi urusan-urusan langit yang membumi

Aku juga bukan orang bumi yang cukup berperan strategis seperti kalian, yang dibina dengan “pilihan” yang jujur kadang membuatku iri

 

Aku cukup tahu detail rute kerja itu, tapi tidak ada manfaat lebih ketika kusimpan sendiri

Saat ku coba bagikan, kalian seolah tak peduli.

Mungkin yang bicara bukan golongan kalian.

Iya, tatapan itu aku terima.

Dan semakin membuatku kuat, bahwa aku harus menjauh saja dari kalian.

 

Aku bisa mencari diriku ditempat lain yang memang membutuhkanku

Saat ilmu lebih, bisa kusalurkan pada yang memang menghargai sekecil apa pun pemahaman dan tanpa peduli langit bumi

 

Ini bukan ungkapan rasa kecewa melainkan sebentuk gumpalan rasa yang pernah kusampaikan tapi tak bertanggapan.

Aku rindu kata “syuro” yang bisa menguatkan ikatanku. Tapi, mengingat semua itu semua kubuang jauh.

Karena yang bisa mengikatku pada jalan ini hanya ikatan dalam hatiku sendiri, sedalam pemahamanku tentang hakikat Tuhanku menciptakanku. Dan itu sangat kuat sekali.

 

Aku, pada sebuah rasa dititik itu.

siap?

Jarak, boleh memisahkan kita.

Tapi itu hanya masalah fisik.

Karena meskipun seberapa jauh jarak memisahkan kita, aku tetap merasa dekat.

Karena engkau ada di hati,

 

Aku banyak belajar darimu.

Meski 3 bulan saja kebersamaan dalam atap itu,

Tapi kenangan bersamamu membekas dalam ingatanku lebih lama dari itu.

 

Dari kisahmu, dari semangatmu, dari seabrek aktivitasmu, dari kesediaanmu berbagi cerita dan ilmu, juga dari kesediaanmu mendengarkan segala kegalauanku, dan dari pesan juga nasehat-nasehat bijakmu yang kadang memaksaku.

 

Dari prosesmu aku belajar, bahwa skenario Allah benar-benar lebih indah bersama jalan yang benar daripada menduga-duga yang kita buat dan tumbuhkan sendiri atas prasangka.

Dari prosesmu, aku belajar ketaatan, belajar merelakan, belajar mengikhlaskan, juga belajar mempersiapkan dan menjadi yang lebih baik. Lebih dari itu, darimu aku belajar untuk “siap”.

Siap untuk sebuah ketenangan ketika mendapat sebuah pertanyaan itu (lagi). Aku seoalh mencari, padahal sebenarnya semua sudah kutemukan tanpa kusadari. Terima kasih…

Untukmu, Maret nanti akan sangat cerah, insya Allah. Dan aku akan menjadi saksi membersamai akhir proses benarmu, bahwa sebuah keikhlasan “bersih” akan berujung indah dengan skenario terbaik-Nya.

Berita bahagia, Barokallahu…….

*ting

Dirimu adalah apa yang kau pikirkan

Pasti kenal kan ungkapan ini?

Dan Allah sesuai prasangka hamba-Nya

Apalagi ini?

 

Sedang melow sekali

Berpikir, dan berpikir…

 

Allah terlalu sayang, dengan apa aku bisa membalas sayangMu ya Rabb?

Terima kasih, terima kasih untuk semua anugerahMu.

Dan izinkan aku menjadi hamba yang selalu bersyukur akan semua nikmatMu.

hari ini, pikirkan saja segala yang membaikkan hatimu, segala kebaikan orang-orang disekitarmu, juga kebaikan berlimpah yang Allah curahkan untukmu.

yang terbaik itu yang mudah

Aku tak menyangka jika jawaban tidak dan belum itu cukup membuat beliau kecewa.

Materinya sudah banyak bukan. belum fahamkah? Kenapa tidak diaplikasikan?

Apalah gunanya belajar, mendengar, tapi ilmu yang sedikit itu saja belum bisa diaplikasikan? *benar-benar merasa bersalah

Tidak…tidak….

Bagiku semua itu tidak bisa ditelan mentah-mentah.

ini hakku bukan?

Butuh logika, dan detail panjang untuk menerimanya.

Iya, itu aku, rumit memang, tapi butuh real, bukan perasaan.

Maaf…

Aku tidak mengkambinghitamkan matematika, yang secara tidak sengaja mungkin sering membuatku selalu memikirkan hal-hal seperti itu terlalu dalam.

Kiri, iya kiri sekali. Dan tidak semudah itu, semudah mereka bilang, coba saja dulu.

*kurasa ini bukan ajang coba-coba.

Butuh diskusi panjang, terlebih untuk meluruskan dan mencari benang emas untuk setiap liku pemikiranku.

Dan ketakutan pada hal itu adalah suatu kesalahan.

Hari ini, bersama mereka. Terima kasih Ya Allah….

*Serasa lampu 5 watt menyala

Ternyata hanya itu,

Dan betapa mudah teorinya. Sungguh aku lebih tahu, aplikatiflah.

Lepas, dan itu kunci yang kutemukan.

Semua hanya dari Mu,

Tak 1 pun kecuali Engkau.

Karena tidak akan pernah tahu, tidak akan pernah tahu.

Niat dan keberkahan itu ada di awal, proses, juga akhir.

Dan keduanya tidak akan didapat kecuali dengan cara yang benar bukan cara yang salah.

Dan suatu kesalahn yang sudah disadari tidaklah patut untuk tetap dilanjutkan.

Menjadilah  kosong

Pun ketika memang sudah datang (lagi),

Yang terbaik memang segerakan dan mudahkan,

Bukan tidak atau belum (lagi).

Pengkondisian dan pemahaman.

Ikhlas

ilalang atau kumbang?

Boleh jadi memang waktunya
Bunga sedang bermekaran
Biarkan ia menyebar harumnya dulu pada seisi taman
Karena bila kau datang mengusiknya
Kau hanya bagai ilalang di tengah padang bunga
 
Bila tiba masanya
Bunga akan butuh kumbang tuk menghisap madunya
Membantunya memberi manfaat pada yang lain
Dan pasti itu kumbang kebaikan yang ingin turut memberi kebaikan
 
Kau ilalang atau kumbang?
Biarkan lepas
 

-_-

beneran,

saya belum siap

belum siap untuk sekarang.

belum siap.

 

pertanyaan itu nanti saja.

bukan, bukan lari…

hanya mempersiapkan.